21 Agustus 2010

Ingatan Jangka Panjang dalam Belajar


Oleh: M. Ali Fauzi

Mendidik anak seperti mengalirkan air. Akan tetapi, mari kita menyiramkan air tersebut layaknya kita menyiramkan air di kebun. Bukan menyiramkan air ke dalam ember. Menyiram air di ember berarti memiliki kemungkinan bahwa ember tersebut akan penuh dan selanjutnya akan tumpah karena wadahnya tetap.

Sedangkan menyiramkan air di kebun berarti kita mengalirkan air tersebut ke tanaman. Dan setiap tanaman dan pohon memiliki kepastian tumbuh dan akan semakin besar. Mendidik menjadi mendampingi, mengisi, melatih, dan memupuknya supaya setiap anak mampu tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang agung.

Di sekolah, kita mulai mendidik anak di kelas. Maka manajemen kelas sangat dibutuhkan (lihat artikel tentang manajemen kelas klik di sini). Dan dengan munculnya berbagai metode pengajaran baru, maka proses pembelajaran akan semakin baik. Agar pembelajaran yang kita berikan kepada anak didik mampu diingat tidak hanya dalam menjawab soal ulangan, maka diperlukan beberapa metode agar anak didik mampu mengingat pelajaran dalam waktu yang panjang.

Hampir semua metode pembelajaran terkini menekankan pada pentingnya pengalaman dalam belajar. Sehingga proses untuk mengikat materi dalam memori jangka panjang (long term memory) semakin mudah.

Di sini hanya akan mengungkapkan beberapa garis besar sederhana untuk mencapai ingatan jangka panjang pada anak didik. Ada beberapa proses pengolahan ketika anak mendapatkan informasi atau materi tertentu. Proses pengolahan inilah yang menentukan posisi informasi atau materi tersebut dalam otaknya. Dalam memori jangka panjang inilah berbagai informasi disimpan dan dihubungkan dalam bentuk gambaran dan skema, suatu pola struktur data yang membuat kita bisa menggabungkan informasi kompleks yang sangat besar, membuat kesimpulan dan memahami informasi baru.

Inilah beberapa proses sederhana yang akan sangat membantu.

1. Mengikat makna
Istilah “Mengikat Makna” pernah dipakai oleh Bapak Hernowo dalam bukunya yang berjudul Mengikat Makna. Di sini istilah tersebut akan dipakai dalam semangatnya.

Penjelasannya. Pada saat anak didik menerima informasi/materi baru, maka anak akan mengolah informasi/materi tersebut dan berusaha memberikan arti pada informasi tersebut berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh anak. Ketika pengetahuan yang coba dihubungkan tidak ketemu, maka anak akan membuat skema atau hubungan tertentu untuk memahami informasi/materi tersebut. Di sinilah anak akan berusaha memahami informasi/materi baru tersebut.

Dengan kondisi di atas, maka mengikat makna bisa menjadi proses olah yang baik untuk mengikat informasi/materi dalam long term memory.

Mengikat makna berarti pertama-tama dengan menghubungkan materi tersebut dengan materi yang sudah ada sebelumnya dan harus terkait. Dalam pembelajaran, kita kenal appersepsi. Makin banyak informasi dihubungkan dengan hal lainnya, makin banyak peta jalan tersedia untuk diikuti dalam mencari sumber pengetahuan aslinya. Inilah pengembangannya.

Melalui mengikat makna, kita menciptakan kondisi dimana anak mampu menuliskan materi dengan bahasa mereka sendiri. Betul, kita pernah mendengar “ikatlah ilmu dengan menuliskannya!”.

Di sini, kita harus mengembangkan cara mencatat siswa. Yaitu dengan mengikat makna. Ketika anak memroses dan mengolah materi baru, percayakan dan bantulah anak untuk mencatat dengan bahasa mereka sendiri. Berarti, pada saat guru menerangkan, tidak ada anak didik yang mencatat. Setelah selesai dan faham, barulah anak mencatat dengan bahasa mereka sendiri. Sabar dan terus ajarilah anak untuk proses ini. Hasilnya akan luar biasa.

Kita membantu siswa dalam elaborasi dengan menyuruh mereka menuliskan informasi sesuai dengan kata yang mereka susun sendiri atau dengan membuat contoh yang relevan.

2. Mengikat guna
Mengolah informasi/materi baru biasanya dengan membuat peta dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang ada. Akan lebih mudah kalau pengolahan informasi/materi tersebut melalui mengikat guna. Yah, dalam bahasa yang akrab kita kenal, AMBAK, Apa Manfaatnya BagiKu.

Menghubungkan informasi tertentu dengan kebutuhan hidup akan memudahkan memori otak kita untuk memanggilnya dan menggunakannya kembali setiap saat. Maka, munculkan dan berikan stimulus agar setiap anak menyadari penting dan manfaatnya mempelajari dan menerima materi baru tersebut. Kalau anak sudah menyadari dan tahu betul manfaat materi tertentu baginya, maka anak akan merasa butuh. Ingat, teori motivasi menurut Maslow dasarnya adalah teori kebutuhan.

Mengikat guna berarti memperkuat dalam diri setiap anak akan manfaat materi tersebut. Manfaat dan guna ini tentu saja diarahkan bagi kehidupan sehari-hari. Sebisa mungkin, hindari manfaat untuk memperoleh nilai bagus dan menjawab soal ujian. Karena, kalau demikian manfaatnya bagi anak, maka setelah ujian anak akan lupa dan merasa tanggungjawab mengingatnya sudah selesai.

Semakin tahu manfaat bagi kehidupan, akan semakin tinggi keinginan anak untuk mengetahui dan mengingat informasi baru.

3. Mengikat rasa
Di bagian ini merupakan bagian terkuat dalam membentuk ingatan jangka panjang. Yakni, mengolah pengetahuan/informasi baru melalui pengalaman langsung yang melibatkan panca indera.

Contoh sederhana. Tanyakan ke beberapa orang di sekeliling anda tentang pengalaman masa kecil yang paling menyenangkan dengan seseorang. Maka, hampir pasti ingatan tersebut karena ada pengalaman langsung dengan orang yang bersangkutan. Misalnya, karena seringnya digendong di pundak, atau pernah diajak memancing bersama, atau pengalaman lainnya.

Maka, berilah pengalaman terhadap anak untuk memroses dan mengolah pengetahuan baru mereka. Dalam pembelajaran di sekolah, misalnya melalui sosio-drama, praktik langsung, atau membuat proyek dan produk tertentu.

Apabila pengetahuan tersebut bersifat prosedural (cara menggunakan sesuatu), maka seringlah mengulang agar anak terus mengingatya. Dengan mengikat rasa dan memberikan pengalaman langsung, maka akan terbentuk jaringan baru yang kuat dalam otak untuk membentuk pengetahuan yang lebih kompleks.

Perjalanan Informasi memasuki memori jangka pendek sangat cepat, namun untuk dapat disimpan di memori jangka panjang membutuhkan usaha tertentu. Dalam memori jangka panjang inilah berbagai informasi disimpan dan dihubungkan dalam bentuk gambaran dan skema, suatu pola struktur data yang membuat kita bisa menggabungkan informasi kompleks yang sangat besar, membuat kesimpulan dan memahami informasi baru.
Bila kapasitas memori jangka pendek sangat terbatas, namun kapasitas memori jangka panjang dapat dikatakan hampir tak terbatas. Kebanyakan kita tidak pernah menghitung kapasitasnya, dan saat satu informasi secara aman sudah disimpan, akan tetap ada di sana dalam waktu yang tak terbatas. Secara teoritis walaupun kita mampu untuk mengingat sebanyak yang kita mau namun tantangannya justru adalah memanggilnya yaitu mendapatkan informasi yang tepat sesuai keinginan. Akses pada informasi membutuhkan waktu dan usaha karena kita harus mencarinya dalam lautan informasi yang luas dalam memori jangka panjang, dan informasi yang jarang dipakai biasanya akan makin sulit untuk ditemukan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Sangat betul. Motivasi yang baik, sebuah filosofi yang baik untuk mendidik anak.

Poskan Komentar